Suami lantarkan istri dan anaknya, tunggulah azab dunia

Saya tak kuasa menahan tangis ketika mengetahui kalau saudara saya ternyata menelantarkan anak dan istri. Dia tidak mau bertanggungjawab terhadap nafkah istri dan kedelapan anaknya. Dia justru sibuk dengan istri yang baru nikahi. Anak-anak tidak terawasi dan jauh dari kasih sayang bapaknya. Sementara istrinya –yang merupakan guru PNS– harus sabar dan tabah menghadapi perilaku suaminya yang doyan sekali kepada istri-istri muda.

Sang istri merupakan sosok wanita yang tabah dan kuat menghadapi tindakan suami yang kerapkali tidak mau peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Bahkan dia jarang pulang ke rumah, karena ternyata di luar memiliki 2 orang istri. Untung saja anak-anaknya tetap bisa sekolah dengan mengandalkan gaji sebagai PNS.

Seiring waktu berjalan, mungkin sebagai suatu peringatan dari Allah SWT, suatu ketika dia tertabrak dan keningnya berdarah dan dianggap tidak apa-apa, sehingga keningnya dibiarkan. Rupanya peringatan tabrakan itu tidak membuatnya sadar, bahkan dia tertarik lagi dengan seorang janda bahenol yang kemudian dinikahinya lagi, maka lengkaplah dia mempunyai 4 istri. Anak-anak sudah sangat membenci melihat perilaku bapaknya yang sudah jarang ke rumah da mempedulikan lagi biaya sekolah. Komunikasi pun sudah terputus.

Rupanya sang suami semakin terlena dengan istri yang masih muda, tetapi suatu ketika dia pun harus dirawat di rumah sakit karena ternyata di kening bekas tabrakan dulu menyimpan virus yang cukup berbahaya, sebab ada gejala kanker di bekas luka itu.

Di sinilah diperihatkan kepedihan dan penderitaan yang dialami, sebab ternyata penyakitnya semakin parah dan virus kanker telah menyebar ke mataya, sehingga tidak ada jalan lain, kecuali matanya harus diambil.

Sungguh kasihan, mata yang sebelah kanan sudah tidak dimilikinya lagi, tinggal satu mata sebelah kiri.

Disinilah derita sakit yang diderita setelah operasi membuat dia terus menerus mengaduh kesakitan.

Akhirnya dia meminta untuk segera dilarikan ke rumah sakit agar rasa sakitnya hilang. Dia pun menjerit-jerit tak tahan menahan sakit di sekitar kepalanya.

Segera saja dilarikan ke rumah sakit, namun belum sampai ke rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, dalam perjalanan malaikat Izrail telah mencabut nyawanya.

Kasihan sekali, itulah kenyataan seorag bapak yang menelantarkan istri dan anak-anaknya, akhirnya dia tersiksa di akhir hayatnya.